Iklan

terkini

Menyeruput Nostalgia di Soekma 1957 Coffee. Cerita Perjalanan Arjun Munthe di Kota Lumbung Padi

Lidinews
Minggu, 8/10/2025 06:05:00 PM WIB Last Updated 2025-08-10T11:06:02Z
Gambar : Menyeruput Nostalgia di Soekma 1957 Coffee. Cerita Perjalanan Arjun Munthe di Kota Lumbung Padi. Lidinews.id


Jawa Barat, Karawang, Lidinews.id – Perjalanan saya ke Karawang kali ini sebenarnya tidak direncanakan untuk menemukan sebuah tempat ngopi. Namun seperti kata orang bijak, perjalanan sering kali menyimpan kejutan-kejutan kecil yang tak terduga.


Dan kejutan itu datang saat saya melangkah ke sebuah bangunan sederhana namun penuh karakter di Jl. HOS Cokroaminoto No. 51. Sebuah papan kecil bertuliskan Soekma 1957 Coffee menyambut saya dengan gaya tipografi klasik, seolah mengundang untuk masuk dan menyelami cerita di baliknya.


Karawang, selama ini dikenal sebagai lumbung padi nasional, menyimpan banyak cerita sejarah dan budaya. Namun di sela hiruk pikuk kota industri ini, ada ruang-ruang sunyi yang mengajak orang untuk berhenti sejenak, meresapi waktu, dan menghirup aroma kopi. Soekma 1957 adalah salah satu ruang itu.


Suasana yang Membawa Pulang Kenangan

Begitu saya melangkah masuk, kesan pertama yang menyergap adalah suasana hangat dan tenang. Desain interiornya seakan meramu perpaduan rumah tua kolonial dan sentuhan artistik modern. 


Lantai kayu yang mengeluarkan bunyi renyah ketika diinjak, dinding dengan cat warna krem lembut, serta lampu gantung temaram yang menyoroti meja-meja kayu panjang, semua terasa akrab, seperti pulang ke rumah nenek di kampung.


Musik jazz pelan mengalun di latar, tidak menguasai ruangan, hanya sekadar menjadi irama yang menemani. Di sudut ruangan, seorang barista sedang sibuk meracik kopi dengan slow bar method—salah satu ciri khas tempat ini. Metode ini memang mengajak kita menikmati proses, bukan sekadar hasil. Butiran kopi digiling perlahan, air panas dituangkan dengan ritme yang sabar, dan aroma harum mulai menyebar di udara.




Filosofi di Balik Nama

Saya bertanya pada salah satu staf tentang arti di balik nama Soekma 1957. Ia tersenyum dan menjelaskan bahwa “Soekma” berasal dari kata sukma—jiwa, roh, esensi. Sedangkan angka 1957 adalah tahun yang memiliki arti khusus bagi pemilik kafe, berkaitan dengan memori keluarga dan sejarah Karawang. Tempat ini dibangun dengan niat untuk menjadi ruang di mana setiap tegukan kopi punya cerita, setiap meja punya kenangan, dan setiap pengunjung membawa pulang secuil ketenangan.


Kopi Lokal, Rasa Nasional

Soekma 1957 Coffee punya koleksi kopi yang berfokus pada hasil bumi Indonesia. Ada biji kopi dari Gayo, Toraja, Flores, dan tentu saja beberapa pilihan dari tanah Sunda. Hari itu saya memesan V60 brew dengan biji kopi asal Flores Bajawa.


Proses penyeduhan memakan waktu sedikit lebih lama daripada mesin espresso biasa, tapi justru di situ letak nikmatnya. Saya bisa melihat bagaimana sang barista menakar bubuk kopi, menuang air panas dalam gerakan melingkar, dan menyelesaikan ritual kecil itu dengan penuh kesabaran.


Tegukan pertama adalah kejutan, ada rasa manis alami, aroma cokelat, dan sedikit aftertaste rempah yang hangat di tenggorokan. Saya membiarkan rasa itu menempel di lidah, seolah ingin mengingatnya lebih lama.


Tidak Hanya Tentang Kopi

Meski kopi adalah bintang utama, Soekma 1957 juga punya pilihan menu non-kopi dan makanan ringan yang menggoda. Dari signature chocolate yang lembut hingga teh herbal khas Jawa Barat yang menyegarkan.


Untuk camilan, banana fritters dengan taburan keju dan madu menjadi favorit banyak pengunjung.

Di meja sebelah, saya melihat sepasang anak muda tertawa sambil bermain kartu, sementara di sudut lain, seorang penulis tengah sibuk mengetik di laptopnya. Soekma 1957 tampaknya punya magnet yang mampu menarik berbagai kalangan—dari pelajar, pekerja kreatif, hingga keluarga yang ingin bersantai bersama.


Tempat yang Menghargai Waktu

Ada sesuatu yang unik di Soekma 1957: waktu seolah berjalan lebih lambat. Mungkin karena musiknya, mungkin karena pencahayaannya, atau mungkin karena interaksi hangat para staf yang membuat kita tidak terburu-buru. Di sini, orang datang bukan sekadar untuk mengisi perut atau memenuhi hasrat kafein, tetapi untuk merayakan momen kecil dalam hidup.


Saya sendiri merasa seperti sedang melakukan perjalanan ke masa lalu, ke saat-saat di mana orang tidak tergesa-gesa, di mana percakapan tatap muka lebih berharga daripada notifikasi di ponsel.


Rekomendasi untuk Pelancong Karawang

Jika Anda kebetulan singgah di Karawang—entah untuk urusan bisnis, perjalanan singkat, atau sekadar melintas—maka Soekma 1957 Coffee layak masuk dalam daftar kunjungan. Lokasinya strategis, suasananya menenangkan, dan tentu saja kualitas kopinya patut diacungi jempol.

Datanglah pada sore hari ketika cahaya matahari menembus jendela besar di sisi ruangan, menciptakan bayangan indah di lantai kayu. Bawa buku favorit atau sekadar siapkan hati untuk ngobrol santai dengan teman.


Akhir Perjalanan, Awal Kenangan Baru

Ketika akhirnya saya meninggalkan Soekma 1957, ada rasa enggan yang tertinggal. Seperti berpisah dengan sahabat lama yang baru saja ditemukan kembali. Saya tahu, suatu saat saya akan kembali. Karena bagi saya, Soekma 1957 bukan hanya kafe, tapi pengalaman, cerita, dan pengingat bahwa di tengah kehidupan yang serba cepat, kita berhak untuk berhenti sejenak, menyeruput kenangan, dan memberi ruang bagi sukma kita untuk beristirahat.


Informasi Singkat Soekma 1957 Coffee: 📍 Alamat: Jl. HOS Cokroaminoto No. 51, Karawang

🕒   Jam Operasional: 10.00 – 22.00 WIB

📌Menu Andalan: V60 Brew, Signature Chocolate, Banana Fritters

🎯 Suasana: Tenang, homey, dengan sentuhan klasik-modern








Komentar

Tampilkan

  • Menyeruput Nostalgia di Soekma 1957 Coffee. Cerita Perjalanan Arjun Munthe di Kota Lumbung Padi
  • 0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanggapan Anda di sini!

Terkini