Penulis : Agus Berkat Lombu
Wakil Ketua Bidang Organisasi DPC GMNI Medan
Lidinews - Kampus adalah kawah candradimuka tempat ideologi diuji dan nalar diasah hingga tajam. Kini, di tahun 2026, wajah kampus telah berubah drastis, ruang kuliah bukan lagi dipenuhi kaum intelektual dan debat kusir yang panas, melainkan oleh cahaya layar laptop serta kesibukan yang Hedonisme.
Saat ini kita sedang menyaksikan lahirnya generasi mahasiswa yang paling cerdas secara teknis dalam sejarah, namun sekaligus yang paling rentan secara eksistensial.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan mahasiswa. Media sosial, yang awalnya diposisikan sebagai sarana komunikasi dan pertukaran informasi, kini menjelma menjadi ruang dominan yang menyerap perhatian, waktu, dan energi kognitif generasi muda. Mereka bisa menggerakkan opini publik lewat tagar atau membedah isu kompleks melalui unggahan vidio.
Dimana kepedulian diukur dari keterlibatan di ruang siber, sementara ruang-ruang diskusi fisik di kantin, taman Kampus atau organisasi kampus justru sepi peminat, sehingga terjebak dalam kenyamanan semu; merasa sudah berjuang hanya karena sudah mengunggah sebuah infografis. Namun, ada bahaya yang mengintai di balik efisiensi ini: aktivisme performatif.
Ke kritisan sering kali hanya berhenti pada estetika konten. Kita melihat mahasiswa yang sangat "berisik" di jagat maya (Media Sosial), namun kehilangan taring saat harus berhadapan langsung dengan realitas sosial di lapangan.
Diskusi-diskusi substantif di organisasi mahasiswa mulai ditinggalkan karena dianggap "berat" dan "tidak menghasilkan engagement." Kita terjebak dalam ilusi bahwa satu klik share setara dengan satu langkah perubahan.
Kita tau hadirnya kecerdasan Teknologi buatan (AI) yang semakin mutakhir telah menciptakan paradoks besar dalam pendidikan. Mahasiswa kini memiliki akses ke "pengetahuan instan." Tugas yang dulu membutuhkan waktu riset mingguan, kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana mahasiswa memperlakukannya.
Saat ini Ada kecenderungan mahasiswa beralih fungsi menjadi sekadar kurator jawaban, bukan pengolah ide, ketika proses berpikir didelegasikan kepada mesin AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan, kemampuan logika dasar dan etika akademik perlahan memudar. Kita pintar dalam memberikan solusi, tapi gagap dalam memahami substansi masalah.
Mahasiswa zaman sekarang yang bisa dikatakan Pragmatisme yang membunuh Idealisme yang dimana tekanan ekonomi dan tuntutan industri yang semakin ketat memaksa mahasiswa menjadi sangat pragmatis.
Kuliah tidak lagi dianggap sebagai proses "menjadi," melainkan proses "memiliki" memiliki gelar, memiliki sertifikat, dan memiliki portofolio yang menarik di mata perusahaan dan pemerintah.
Idealisme yang dulu menjadi bahan bakar gerakan mahasiswa kini mulai meredup, digantikan oleh mentalitas korporat sejak dini. Mahasiswa hanya mau bergerak jika ada imbalan berupa "konversi nilai" atau "sertifikat pendamping ijazah." Kampus yang seharusnya menjadi tempat bereksperimen dan berbuat salah, kini terasa seperti tempat pelatihan kerja yang kaku.
Mahasiswa saat ini memikul beban mental yang jauh lebih berat dari generasi sebelumnya. Tekanan untuk tampil sempurna di media sosial dan ketakutan akan masa depan (FOMO) menciptakan kecemasan yang konstan.
Kampus bukan lagi tempat yang sepenuhnya aman untuk bereksperimen, karena setiap kesalahan bisa terekam dan menjadi jejak digital yang abadi.
Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman algoritma. Kembali membaca buku yang tebal, berani berdebat tanpa takut tersinggung, dan menggunakan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti otak.
Kita harus membuktikan bahwa meskipun kita hidup di era digitalisasi,otomatisasi, integritas dan kedalaman berpikir manusia tetap tidak bisa digantikan.
Editor : Arjuna H T Munthe



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tanggapan Anda di sini!