Jakarta, Lidinews – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menyatakan keprihatinan mendalam atas fenomena gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah Eropa sepanjang akhir Juni 2026.
Dengan catatan lebih dari 1.300 korban jiwa dan gangguan infrastruktur vital, DPP GMNI menegaskan bahwa krisis ini merupakan peringatan nyata bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan ancaman eksistensial yang terjadi di depan mata.
Fenomena yang oleh WHO disebut sebagai "pembunuh senyap" ini menjadi cermin bagi pemerintah Indonesia dan seluruh elemen bangsa untuk tidak menganggap remeh isu krisis iklim. "Apa yang terjadi di Eropa, di mana infrastruktur seperti jalan raya retak dan jaringan listrik kewalahan, adalah bukti bahwa sistem kita harus mulai beradaptasi secara radikal terhadap perubahan cuaca ekstrem," ujar Adam selaku Kabid Lingkungan DPP GMNI.
DPP GMNI menyoroti beberapa poin krusial yang harus menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia seperti penguatan mitigasi dan adaptasi, transisi energi yang adil, kesadaran kolektif dan kebijakan berbasis sains.
“Kita tidak ingin menunggu bencana serupa melumpuhkan negeri ini. Alam telah memberikan peringatan lewat tragedi di Eropa. Jika kita abai, maka kita sedang menggali kubur bagi generasi mendatang. DPP GMNI akan terus mendesak pemerintah agar isu lingkungan tidak sekadar menjadi jargon politik, melainkan prioritas utama dalam setiap pengambilan kebijakan," tegas DPP GMNI.
DPP GMNI mengajak seluruh komponen bangsa, khususnya Pemerintah dan kaum muda, untuk memperkuat solidaritas dalam menjaga lingkungan dan menuntut langkah nyata dari para pemangku kebijakan untuk memastikan masa depan bumi yang lebih hijau dan aman.
Editor : Arjuna H T Munthe



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tanggapan Anda di sini!