Iklan

terkini

Menolak Lupa : Membuka Gembok Nalar Berpikir dan Menyalakan Kembali Ruh Ideologi Serta Manifesto Pemikiran Bung Karno

Lidinews
Minggu, 6/21/2026 10:46:00 PM WIB Last Updated 2026-06-21T16:03:18Z

Penulis : Otama Halawa

‎Ketua Bidang Agitasi & Propaganda DPC. GMNI Jakarta Timur

Gambar : Menolak Lupa : Membuka Gembok Nalar Berpikir dan Menyalakan Kembali Ruh Ideologi Serta Manifesto Pemikiran Bung Karno. Lidinews


‎Lidinews - Setiap tanggal 21 Juni, bangsa Indonesia kembali dihadapkan pada satu fragmen paling emosional sekaligus transformatif dalam sejarahnya: hari berpulangnya Ir. Soekarno pada tahun 1970. Lebih dari sekadar Proklamator yang membacakan teks kemerdekaan, Bung Karno adalah arsitek peradaban yang meletakkan fondasi kebangsaan dan mendedikasikan seluruh tarikan napasnya sebagai Bapak Marhaenis pembela wong cilik yang dieksploitasi oleh sistem kapitalisme global. 

‎Mengenang wafatnya Bung Karno bukan lagi soal meratapi masa lalu dengan melankolisme yang pasif, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk "Menolak Lupa" atas esensi perjuangan yang hari ini mengalami pendangkalan hebat di tengah pusaran zaman.

‎Sejarah mencatat sebuah kepahitan luar biasa di akhir hayat Sang Singa Podium. Akhir hidup beliau jauh dari kepanduan sorak-sorai rakyat yang biasa beliau bakar semangatnya dari atas mimbar bebas. Melalui kebijakan Desoekarnoisasi yang digulirkan secara sistematis, terstruktur, dan masif oleh rezim Orde Baru, Bung Karno dihantam badai politik, diisolasi dari arus informasi, dan dijauhkan secara paksa dari rakyat yang dicintainya, berikutnya beliau dijustifikasi secara sepihak, diposisikan sebagai pesakitan sejarah melalui narasi pengkhianatan yang keji, dan dibiarkan wafat dalam kesunyian yang mencekam di balik jeruji tak kasat mata Wisma Yaso.

‎Namun, di tengah isolasi lahir batin yang mengiris hati tersebut, Bung Karno membuktikan bahwa jiwanya telah melampaui ego material dan syahwat kekuasaan, beliau tidak pernah mengemis fasilitas mewah, jabatan, atau privilese politik dari penguasa baru.

‎Kepergiannya adalah manifestasi tertinggi dari filosofi Jawa, "Memayu Hayuning Bawono", sebuah komitmen suci untuk menjaga keselarasan semesta, merawat perdamaian, dan menyelamatkan eksistensi bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. Beliau memilih mengalah dan menelan kepahitan personal demi menghindari perang saudara yang berpotensi menumpahkan darah antar anak bangsa.

‎Totalitas pengabdian tanpa batas tersebut tercermin kuat dari lembaran sejarah kelam pasca-peristiwa 1965. Tepat pada tanggal 10 September 1966 di Jakarta, ketika gelombang tekanan politik Orde Baru sedang gencar-gencarnya mendesak beliau turun dari kekuasaan, Bung Karno justru tidak memikirkan keselamatan dirinya.

‎Di tengah kepungan demonstrasi dan ancaman disintegrasi bangsa, beliau menorehkan sebuah wasiat tertulis dari lubuk hatinya. Dokumen itu bukan berisi instruksi militer untuk melawan, melainkan sebuah pernyataan kebulatan tekad spiritual dan falsafah hidup orisinal yang kita kenal sebagai Dedication of Life. Sebuah manifesto kerendahan hati seorang pemimpin besar yang berbunyi:

‎"Saya adalah manusia biasa. Saya dus, tidak sempurna. Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan dan kesalahan. Hanya kebahagiaanku adalah mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa. Itulah dedication of life-ku. Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafah hidupku, dan menjadi bekalku dalam seluruh gerak hidupku. Tanpa jiwa pengabdian ini, saya bukan apa-apa. Akan tetapi, dengan jiwa pengabdian ini, saya merasakan hidupku bahagia, dan membawa manfaat."

‎Tragedinya, Bung Karno pergi terlalu cepat saat ombak revolusi Indonesia belum sepenuhnya tuntas. Ketika Orde Baru memotong paksa jalur revolusi tersebut dan menggantinya dengan pembangunan yang berkiblat pada modal asing, bangsa ini seketika kehilangan kompas kemanusiaan dan sosialnya. Kegusaran terbesar kita hari ini adalah ketiadaan suksesor ideologis yang sepadan. 

‎Beban sejarah itu kini jatuh ke pundak mereka yang hari ini mengklaim diri sebagai "anak-anak ideologis Bung Karno." Namun, harus diakui dengan jujur, menjadi Soekarno sejati di era kontemporer tampaknya telah bergeser menjadi sebuah utopia yang teramat jauh akibat degradasi mental. Peradaban politik kita hari ini justru terjebak dalam kepalsuan estetika yang meninabobokan. 

‎Kita terus-menerus disuguhkan oleh komodifikasi ornamen-ornamen politik yang menggiurkan. Ornamen yang saya maksud di sini bukan sekadar atribut fisik seperti peci hitam, baju safari, baliho raksasa, atau kutipan puitis yang diobral murah saat musim pemilu. Lebih berbahaya dari itu, ornamen ini mewujud dalam bahasa politik komoditatif yang menawarkan fatamorgana dari narasi-narasi manis tentang kemakmuran instan, janji-janji kesejahteraan semu, hiburan populis, dan kenyamanan transaksional yang dirancang khusus untuk merangsang alam bawah sadar kita agar mau berkompromi secara pragmatis, seperti halnya yang terjadi pada peradaban bangsa kita hari ini, bangsa Indonesia.

‎Kita disuapi oleh ilusi pemenuhan materi jangka pendek, hingga tanpa sadar kita melupakan substansi sejati dari sebuah perjuangan kelas. Tragisnya, semua bahasa yang menggiurkan itu digunakan sebagai kosmetik politik dan alat hegemoni baru demi melanggengkan kekuasaan oligarki. 

‎Kondisi ini telah menjauhkan kita dari kedalaman moral, etika publik, nilai sosial, dan pembelaan murni terhadap kaum Marhaen modern para buruh yang terjerat kontrak fleksibel, petani yang kehilangan tanahnya, serta rakyat miskin kota yang terpinggirkan. 

‎Simbol dan bahasa persuasif yang manipulatif tersebut akhirnya berubah menjadi gembok besi yang mengunci ruang berpikir kritis kita. Kita dibuat merasa sudah cukup menjadi "Soekarnois" hanya dengan mengonsumsi narasi manis itu, sementara kebijakan politik riil di sekitar kita justru kerap menggusur, merampas, dan memenjarakan hak-hak rakyat kecil.

‎Tanpa sadar, bangsa ini telah berjalan terlalu jauh di jalan yang keliru. Kita telah melangkah meninggalkan kompas cita-cita yang dirumuskan dengan darah, air mata, dan air susu ibu oleh para founding fathers dan founding mothers kita, Kita sering melupakan bahwa kemerdekaan ini juga diperjuangkan oleh para ibu bangsa yang menginginkan keadilan sosial sejati, bukan sekadar pergantian elite penguasa.

‎Kendati raga Bung Karno telah tiada dan terkubur, takdir sejarah membuktikan bahwa pemikiran beliau tidak akan pernah bisa dipenjara oleh jeruji besi atau dihapus oleh propaganda rezim mana pun. Saya mau katakan bahwa Bung Karno Tidak akan Tiada selagi pemikiran nya masih ada pada Bumi Indonesia. 

‎Beliau meninggalkan sebuah maha karya ideologi yang berfungsi sebagai perekat sapu lidi kebangsaan Indonesia,dan pasti tentu Kita tahu bersama bahwasanya Melalui Pancasila sebagai weltanschauung (dasar negara) dan nasionalisme yang inklusif-humanis.

‎Bung Karno telah merancang sebuah cetak biru yang kokoh agar keutuhan multikulturalisme bangsa ini tetap berdiri tegak hingga akhir zaman. Selanjutnya Lebih dari itu, beliau mewariskan sebuah senjata penyerang bernama Trisakti "Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan".

‎Di era kontemporer ini, ketika Indonesia digempur oleh neokolonialisme gaya baru (necolim) yang berwujud kapitalisme digital, jebakan utang luar negeri, liberalisasi pasar, dan penetrasi budaya asing yang mencabut akar identitas lokal, konsep Trisakti bukanlah sekadar hafalan teks kuno. Trisakti adalah formula jenius yang bertindak sebagai "daya Turbo" besar. Daya turbo inilah yang harus kita reaktivasi secara radikal untuk merebut kembali kedaulatan wilayah, mengamankan ketahanan pangan mandiri, menyelamatkan kekayaan alam dari eksploitasi korporasi multinasional, serta menegakkan martabat manusia Indonesia di kancah internasional.

‎Oleh karena itu, mengenang wafatnya Bung Karno pada 21 Juni ini tidak boleh lagi sekadar menjadi ritual tahunan yang kering akan makna. Ini harus kita jadikan momentum nasional untuk melakukan otokritik total dan radikal terhadap arah gerak peradaban bangsa. Kita harus Menolak Lupa pada substansi perjuangan, bukan sekadar terjebak pada selebrasi seremonial dan rayuan bahasa politik yang menggiurkan. Peringatan ini harus menjadi martil godam yang mendobrak gembok-gembok nalar berpikir kita yang telah karatan oleh pragmatisme zaman. Tugas sejarah ini tidak bisa dibebankan pada elite yang sudah nyaman dalam lingkaran kekuasaan transaksional. 


‎Tugas ini ada di pundak kaum muda, mahasiswa, dan seluruh elemen rakyat yang masih memiliki hati nurani. Sudah saatnya kita berhenti menjadi sekadar kolektor abu sejarah yang pasif dan peratap masa lalu. Sebagai anak-anak ideologis yang sadar akan garis perjuangan, mari kita hancurkan ilusi politik transaksional, hancurkan gembok pemikiran yang memasung nalar kritis, dan nyalakan kembali api dedikasi Bung Karno. 

‎Mari berhenti untuk menggaungkan dan membagikan kesadaran palsu tersebut dan Mari kembali pada sumber kita, kembali pada akar rumput, dan rebut kembali kompas kedaulatan sejati untuk dikembalikan ke tangan rakyat Indonesia.



Editor : Arjuna H T Munthe

Komentar

Tampilkan

  • Menolak Lupa : Membuka Gembok Nalar Berpikir dan Menyalakan Kembali Ruh Ideologi Serta Manifesto Pemikiran Bung Karno
  • 0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanggapan Anda di sini!

Terkini