Iklan

terkini

Jangan Hapus Dosa Kelalaian Maskapai di Balik Ramainya Jadwal Hari Ini

Lidinews
Rabu, 9/09/2026 03:36:00 PM WIB Last Updated 2026-09-09T08:36:40Z

Oleh: Bung Veri 

Bidang Politik DPC GMNI Kota Medan

Gambar : Jangan Hapus Dosa Kelalaian Maskapai di Balik Ramainya Jadwal Hari Ini. Lidinews

Lidinews - Hembusan napas lega akhirnya terdengar di seantero Bandara Internasional Kualanamu. Setelah lumpuh sejak Minggu, 6 September 2026 akibat dampak berantai semburan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, aktivitas penerbangan akhirnya resmi berdenyut kembali.


Rasa terima kasih dan syukur patut kita panjatkan karena roda transportasi udara telah beraktivitas normal. Namun, kembalinya jadwal terbang hari ini tidak serta-merta menghapus jejak kelam dan luka mental yang ditinggalkan oleh manajemen krisis maskapai selama tiga hari kemarin.


Penutupan jalur udara demi keselamatan memang secara hukum benar. Bencana alam berada di luar kendali manusia. Namun, membiarkan puluhan ribu manusia telantar di darat tanpa informasi yang jelas, responsif, dan manusiawi adalah murni kelalaian manajemen. Selama berhari-hari, bandara berubah menjadi lautan ketidakpastian.


Para penumpang dipermainkan oleh lambatnya respons customer service dan buruknya sistem pemberitahuan awal. Akibatnya, pemandangan memilukan tak terhindarkan: banyak penumpang, termasuk orang tua dan anak-anak, terpaksa tidur telantar di lantai bandara selama dua hari dua malam demi menunggu kejelasan yang tak kunjung datang.


Mereka bukanlah sekadar deretan angka di komputer maskapai, melainkan manusia dengan taruhan hidup yang runtuh seketika akibat pembatalan massal pada tanggal 6 dan 7 September kemarin:


• Kerugian Materiil: Bapak Paimo (Solo) terpaksa merelakan tiket bus terusannya dari Jakarta hangus sia-sia akibat pembatalan penerbangan sepihak tanpa kabar sejak ia bertolak dari rumah.


• Kelalaian Informasi Terbuka: Bapak Primus Kaywan Seran dan Bapak Melkianus Bria (NTT) telantar di persimpangan rute tanpa pegangan, hanya karena admin maskapai tidak becus mengirimkan pesan peringatan dini 3 jam sebelum batas check-in.


• Ancaman Profesional: Daniel (Medan) terancam sanksi dunia kerja, kehilangan reputasi, hingga pemotongan pendapatan di Jakarta karena tidak mendapatkan notifikasi awal untuk memitigasi keterlambatan masuk kantor pada Senin, 7 September 2026.


• Kehancuran Bisnis: Seorang ibu bersama tiga rekannya harus kehilangan peluang nafkah, runtuhnya kepercayaan bisnis, dan hangusnya akomodasi lanjutan yang telah dibayar di muka.


• Tamparan Citra Internasional: Seorang turis asing (bule) terombang-ambing dalam kebingungan total selama dua hari tanpa tahu apa yang terjadi karena buruknya pusat informasi maskapai. Ironisnya, ia justru harus bertanya kepada penulis mengenai apa solusi dari pihak bandara. Ketika penulis menjelaskan tentang pilihan reschedule (ganti jadwal) atau refund (uang kembali), di sinilah nurani kita terpukul. Maskapai tidak hanya gagap melayani bangsa sendiri, tetapi juga gagal total memberikan kenyamanan bagi warga asing, meninggalkan kesan pelayanan publik kita yang sangat terpuruk di mata dunia.


Permainan Mental Penundaan Berulang


Catatan opini ini sengaja tidak penulis rilis pada Senin maupun Selasa kemarin demi memberikan ruang maklum atas faktor alam. Penulis sengaja menahan tulisan ini hingga hari Rabu, 9 September 2026, saat para penumpang mulai dialihkan dan diterbangkan. Namun, jeda waktu ini justru mempertegas satu hal: penanganan krisis maskapai gagal total. Topeng maklum itu runtuh ketika kita melihat bagaimana maskapai terus mengulangi pola buruk menunda jadwal secara mendadak dengan dalih menunggu konfirmasi BMKG, sementara transparansi bagi penumpang tetap gelap gulita.


Puncak dari hilangnya empati ini dirasakan seorang bapak pebisnis yang memiliki janji kerja krusial. Alih-alih mendapat solusi proteksi (recovery plan) yang cepat saat jadwalnya dibatalkan pada tanggal 7 September kemarin, pihak customer service justru melemparkan janji surga bahwa ia akan dialihkan ke hari Rabu ini, namun langsung ditimpali kalimat spekulatif: "Tapi itu pun belum pasti juga, ya."


Dipermainkan di tengah situasi darurat membuktikan bahwa maskapai hanya memikirkan kepentingan operasional sendiri dan abai pada kondisi psikologis konsumen. Secara regulasi, maskapai memang punya tameng hukum untuk lepas tangan dari kerugian efek domino (consequential damages). Namun secara moral, mereka gagal total. Industri ini begitu perkasa saat mendenda keterlambatan penumpang kecil, namun mendadakampai bisu, lambat, dan berlindung di balik meja birokrasi saat krisis darurat melanda.


Klarifikasi dan penegasan ini sengaja ditulis bukan untuk merusak momen bahagianya bandara yang telah beraktivitas kembali. Catatan dari Kualanamu ini adalah alarm keras yang sengaja ditiupkan agar peristiwa memilukan ini tidak pernah terulang lagi di masa depan.


Selamat di udara adalah kewajiban teknis yang kami sepakati. Namun, membiarkan manusia telantar di darat tanpa logistik, kejelasan informasi, dan mitigasi yang manusiawi adalah kegagalan sistemik.


Kementerian Perhubungan dan Pemerintah harus segera merombak regulasi manajemen krisis penerbangan nasional. Memanusiakan penumpang, bahkan di tengah bencana alam sekalipun, adalah cerminan dari martabat sebuah bangsa.



Editor : Arjuna H T Munthe

Komentar

Tampilkan

  • Jangan Hapus Dosa Kelalaian Maskapai di Balik Ramainya Jadwal Hari Ini
  • 0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanggapan Anda di sini!

Terkini